Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Oktober 2011

LAGU UNTUK VIOLA

"Vio!"
Gadis berkepang dua itu berhenit. Diangkatnya alis tinggi-tinggi ketika Lukman menghampirinya tergesa-gesa.
“Apa?”
“Aku antar kau, ya?”
Viola tercenung. Lewat ekor matanya, dia dapat melihat Alvin dan Oca bergandengan masuk ke dalam mobil Alvin. Nyeri lambung Viola tiba-tiba melihat pemandangan itu.
“Ayolah, kau sudah janji kemarin,” desak Lukman.
“Aku mesti ketoko buku dulu. Maaf Luk, aku tidak bisa.”
“Kebetulan. Aku punya rencana mau ke toko buku. Ayo, kuantar kau ya,” kata Lukman pula, tanpa putus asa. Viola menarik nafas panjang. Mobil Alvin sudah melaju melewati mereka. Hati Viola sedih sekali melihat Alvin tidak melirik sedikit pun kearahnya. Seluruh perhatiannya sudah terpaut pada Oca, anak yang baru pindah itu, pikirnya. Viola mendadak ingat siapa Lukman. Lukman juga murid baru di kelasnya. Cowok itu sudah banyak menarik perhatian cewek-cewek kelasnya sejak ia pertama masuk, persis seperti adik sepupunya itu. Ya, Oca memang adik sepupu Lukman.
“Tidak. Aku bisa pergi sendiri,” kata Viola.
Kemudian dia melangkah tergesa-gesa, meninggalkan Lukman yang tertegun menelan kekecewaan. Dia merasa tidak sakit hati dengan penolakan Viola, karena mengerti mengapa cewek itu berbuat demikian. Di toko buku, hati Viola jadi sakit lagi. dia tak menyangka sedikit pun akan menjumpai Alvin dan Oca di sana.
“Hei! Vio. Mau beli buku juga? Wah, aku kira koleksimu sudah ratusan. Eh Oca, kenalkan nih Si Kutu Buku sekolah kita. Viola.” Oca segera mengulurkan tangannya. Viola mencoba tersenyum. Dia agak kaget juga dengan ketenangan Alvin. Dia benar-benar berpengalaman, bisiknya, di hati. Dan aku benar-benar cewek yang teramat bodoh. Oca dan Alvin pergi lebih dulu. Viola jadi ingat, ketika Alvin masuk suka jalan bersamanya. Ah, begitu banyak kenangan manis yang mereka ciptakan bersama. Itulah sebabnya mengapa aku begitu sulit melupakannya, keluh Viola sambil membayar bukubuku yang dibelinya di kasir.

            “Lukman selalu memperhatikanmu, selalu menyanyangimu, tapi mengapa kamu tak pernah berlaku ramah di depannya?” kata Nunik, teman dekatnya.
“Karena itulah aku tak mau menggubrisnya. Aku tak menyukai perhatiannya itu. Aku tak menyukai pamrihnya,” kata Viola. Nunik menepuk pipi Viola sambil tersenyum halus.
“Vio antara kau dan Alvin sudah selesai. Kisah lama itu harus kau tutup. Tidak mungkin kau mesti menutup diri selamanya. Alvin tidak amat berharga untuk pengorbanan semacam itu.”
Viola berhenti menyusun bukunya sambil menoleh kepada Nunik. Matanya memancarkan sinar yang amat tajam.
“Barangkali begitu. Tapi aku merasa, antara aku dan Alvin masih ada sisa perhitungan.” Nunik bergidik melihat sinar mata Viola. Begitu menakutkan. Karena itu segera digenggamnya lengan Viola.
“Jangan berbuat nekad, Vio. Dendam tidak akan menyelesaikan persoalan.” Viola mengangkat bahu. Dan Nunik tahu, rayuannya sia-sia saja. Viola amat keras dalam pendirian. Sepeninggal Nunik, Viola membuka laci mejanya. Dikeluarkannya selembar foto dari dalamnya. Foto Alvin.
“Aku menyukaimu, Al. Amat menyayangimu, tapi kenapa … ,” keluhnya sambil menitikkan air mata. Sudah empat bulan mereka berpisah, tapi tetap saja Viola merasa baru kemarin sore Alvin datang ke hadapannya sambil membawa bunga mawar yang segar itu.
“Maaf, Vio. Tapi seperti engkau tahu, aku suka berterus-terang. Tidak ada lagi di antara kita yang pantas kita pertahankan. Aku menyukaimu tapi tak dapat mencintaimu. Engkau bukan gadis tipe idealku dan …” Viola sudah tidak ingat apa lagi kata Alvin selanjutnya. Yang dia ingat cuma, Alvin menyerahkan kembang itu, mengecup keningnya kemudian melarikan mobilnya membelah kegelapan malam. Ketika mereka berhubungan, banyak teman Viola yang mengingatkan untuk berhati-hati sebab semua orang tahu siapa Alvin. Vio pun tahu siapa cowok itu, sebetulnya. Itulah sebabnya dia tidak begitu tertarik ketika Alvin mendekatinya pertama kali. Dia menduga, pendekatan Alvin hanyalah karena ingin membuktikan pada teman-temannya, bahwa ia papa bravo nomor wahid karena bisa menundukkan Viola, si Kutu Buku, debu perpustakaan yang sering digelari patung es. Cukup lama Vio menguji Alvin. Tapi dasar Alvin berjiwa ulet, dia tak pernah putus asa. Dan kini … oh, bisik Vio perih. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat?

Viola bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat dia belajar piano. Ada keengganan menyergap hatinya, karena dia tahu ada Lukman di sana.
“Ini lagu-lagu yang akan kalian bawakan. Luk, coba engkau yang pertama,” kata guru mereka, Bu Marta, memberi kode perintah. Lukman melirik Viola sebelum mulai bermain. Viola menunduk. Lukman lantas memulai dengan Turkish March. Ibu Marta mengetuk-ngetuk meja memberi kode waktu. Dua jam lebih mereka habiskan untuk berlatij. Viola menarik nafas ketika dia sudah kembali berada di luar sekolah.
“Vio.”
Viola melirik. Lukman seperti gelisah di depannya.
“Apa?”
“Kau akan menolak juga kalau kuajak ke kantin sana?”
Entah apa yang lucu, Vio jadi tersenyum geli mendengar pertanyaan Lukman yang polo situ.
“Tidak. Kebetulan aku memang haus,” kata Viola kemudian. Lukman tersenyum cerah. Tadi dia tak berani lagi berharap, karena sudah sering ditolak Viola.
“Sori, Luk. Aku kelihatannya kasar ya? Bukan maksudku begitu,” kata Vio lembut, waktu mereka sudah duduk di kantin. Lukman menggelengkan kepala.
“Tidak usah kau terangkan, Vio. Aku sudah mengerti.”
“Trims deh kalau begitu.”
Keheningan yang tadi mencekam mulai mencair dengan sikap ramah yang ditunjukkan Viola. Kelihatannya dia ingin menghapus image jelek Lukman atas dirinya. Viola sadar, sikap dingin yang ditunjukkannya pada Lukman selama ini Cuma didasari rasa dendam yang tak tentu arah. Dia marah pada Oca, saudara Lukman, tapi tak dapat mencurahkannya langsung kepada gadis itu. Tetapi Lukman merasa amat bahagia dan hampir tak yakin dengan kenyataan yang diterimanya sekarang. Viola ternyata sungguh manis dan pintar sekali membangun percakapan.
“Teman-teman pasti kaget melihat kita akrab besok di kelas,” kata Lukman ketika mengantar Viola pulang. Viola mengangguk geli. Selama ini, seperti sudah ada undang-undang tak tertulis, cuma Lukman Cowok yang tak pernah ditegurnya dengan ramah, sehingga temantemannya menganggap mereka bermusuhan.
“Ya, apalagi Nunik. Dia selalu kesal melihatku tak pernah bersikap manis terhadapmu.”
“Aku senang, kita bisa berteman,” ujar Lukman. Viola menyetujuinya dalam hati. Kelas mereka memang jadi geger ketika Viola dan Lukman bersama-sama masuk kelas keesokan harinya. Nunik sampai terbelalak. Viola mengedipkan mata, tapi tak urung dia melirik juga ke meja Alvin. Cowok itu sedang membaca bukunya dan kelihatan asik betul.
“Apa yang merasuki tubuhmu sampai rukun betul dengan Lukman?” kata Nunik.
“Oh, tak ada apa-apa. Cuma, aku saja yang keliru selama ini. Lukman ternyata cukup menyenangkan. Nunik tersenyum lega.
“Nah, apa kubilang? Lukman memang pantas untukmu.”
“He jangan berpikir yang lain. Lukman cuma seorang teman.” Nunik mengangkat tangan tinggi-tinggi, tapi sudut bibirnya memancarkan senyum yang penuh godaan.
“Ya, ya, dia cuma seorang teman … istimewa!” Viola terbelalak lebar-lebar, sementara Nunik tertawa-tawa gembira. Istimewa atau tidak, Lukman ternyata memang seorang teman di kala suka dan duka bagi Viola.
“Ada film bagus. Kita nonton ya?” ajak Viola suatu ketika. Lukman tersenyum manis. “Film apa?”
“Film Drama Romantis”.
“Oh, actor ganteng itu toh yang main? Aku sudah lihat aktingnya dalam Film lain. Bagus! Pertunjukan pukul berapa?” Viola tertawa senang. Itulah Lukman, yang selalu bersedia diajak ke mana saja. Selain pintar, dia juga tahu menyenangkan hati.
“Pukul tujuh. Oke?”
“Tunggu saja. Aku jemput!” Viola kemarin masuk kedalam mobil Lukman, ketika pelajaran usai hari itu. Mereka masih tertawa membicarakan guru yang konyol di depan kelas tadi, ketika Viola melihat Alvin jalan sendiri menuju mobilnya tanpa Oca di sisinya. Wajah Alvin tampak murung. Aneh sekali. Viola jadi tak dapat lagi mendengar cerita Lukman karena benaknya penuh dengan bayangan Alvin. Kenapa bisa begitu, pikirnya. Alvin yang kukenal adalah Alvin yang tak pernah sedih, tak pernah mengenal duka dan selalu menganggap ringan semua masalah. Tapi sekarang ….
“Vio, kau … melamun?” tegur Lukman.
“Eh, oh, aku …”
“Kau kelihatan pucat. Ada apa?” sinar mata Lukman memancarkan rasa cemas. Diam-diam Viola mengeluh. Dia sudah lama tahu, ada perhatian khusus dari Lukman untuknya. Dan dia senang itu, sebab dia juga menyukai Lukman. Tapi bagaimanapun, dia tak dapat melupakan Alvin. Yang diimpikannya setiap saat berjalan di sisinya Lukman yang baik, melainkan Alvin yang memilih Oca dua bulan yang lalu.
“Tidak apa-apa. Trims, Luk. Sampai nanti ya.”
“Ya, langsung istirahat saja, Vio. Aku sayang kau,” bisik Lukman. Kemudian melarikan mobilnya. Viola tercenung, kaget dan akhirnya menyesal. Dia sedih karena tak dapat juga menukar tempat Alvin di hatinya dengan Lukman, cowok yang baik itu.
“Oca sudah punya pacar yang lain. Hendri, temannya di club. Alvin tentu saja merasa ditinggalkan begitu,” lapor Nunik esok harinya di kelas, ketika Viola bertanya mengapa Alvin tak pernah kelihatan ceria lagi.
“Tahu rasa dia sekarang. Dia pikir, semua cewek bakal bertekuk lutut di depannya,” sambung Nunik puas.
“Kasihan dia …”
“Eh, kok malah dibela? Dia kan yang membuatmu tak pernah tersenyum lagi beberapa bulan yang lalu? Dan, untung ada Lukman kan?”
“Tidak ada hubungannya dengan Lukman, Nik.” Nunik meloto gemas.
“Kau ini, Vio, selalu saja menurutkan emosi. Masak untuk Alvin yang sok itu, kau mau melepas Lukman?”
“Ah, kau. Aku menyukai Lukman, tapi tidak mencintainya, Nik.”
“Oh ya? Dan sekarang, kau ingi jadi dewi penghibur si kunyuk Alvin ya?” Viola tak pernah mendengar suara Nunik semarah itu. Nunik pun segera melangkah meninggalkannya setelah berkata begitu. Viola menarik nafas. Nunik marah sekali, desisnya di hati.

Lukman mengerling kearah Viola. Gadis itu sedang menunduk menekuni bukunya. Ada ulangan Bahasa Indonesia besok dan mereka diharuskan mengingat semua definisi gaya bahasa serta gejalanya. Tapi perhatian Lukman sudah tak pada bukunya lagi sekarang.
“Hei, ada apa di wajahku?” tegur Viola memukul lengannya. Lukman tersentak dan tersenyum manis.
“Aku suka melihatmu. Kau cantik sekali.”
“Setan gombal. Aku tidak ada uang receh nih!” Lukman tergelak. Ditutupnya buku.
“Vio.”
“Hm.”
“Kemarin, kau pergi ke mana?”
“Renang.” Lukman menekan dadanya menahan rasa perih yang semakin hebat. Dia tahu,
kenangan manis bersama Alvin di masa dulu, masih begitu kuat melekat dihati Viola.
“Sendiri?” pancingnya, seperti tidak sadar akan bahayanya.
“Tidak. Bersama Alvin,” sahut Viola tenang, sembari membalik bukunya. Padahal jauh di ujung hatinya ada semacam getaran halus.
“Aku tidak tahu kau akan kembali pada Alvin,” Lukman berkata dengan hambar. Viola mengangkat mata. Dia tersenyum lebar. Dan Lukman menatapnya dengan mata sedih.
“Dia mengajakku, Luk. Karena kebetulan aku tak punya teman kemarin, ya, kuturuti saja.”
“Kau kan bisa mengajakku.”
“Lho, kemarin kau latihan bola kan?” Lukman menarik nafas jengkel. Viola seolah-olah menganggap remeh perasaannya.
“Kau pintar cari alas an sekarang. Enak ya punya serep? Kalau yang satu tak ada di tempat, silahkan ajak yang lain,” sindir Lukman. Viola mencekal lengan Lukman. Tapi cowok itu membuang muka. Dia benar-benar tersinggung.
“Kau marah ya, Luk? Maaf, aku tidak tahu kalau kepergiaanku dengan Alvin membuatmu marah. Tapi, Alvin toh masih temanku juga, dan dia ….”
“Dan dia kembali mengincarmu setelah putus dengan Oca. Tidakkah kau rasakan, Vio, bahwa Alvin cuma ingin mempermainkanmu? Dia tak pernah sungguhsungguh terhadapmu.” Sejuta jarum halus menusuk jantung Viola mendengar itu. Hatinya sakit sekali.
“Ya, ya, aku tahu, aku ini bagai pungguk. Aku mengharapkan Alvin akan setia selamanya padaku, tapi ternyata tidak. Menurutmu, dia cuma ingin main-main. Aku tahu, aku ini cukup barharga, aku ini ….” Lukman merengkuh bahu Viola.
“Vio, bagiku, tak ada yang lebih berharga selain dirimu. Tak dapatkah engkau melupakan Alvin dan belajar menyukaiku?”
“Pulanglah, Luk. Tinggalkan aku sendiri. Ya, tinggalkan aku sendiri.” Lukman terpana. Ditatapnya Viola, tapi yang ditemukannya hanya seraut wajah datar tanpa senyum, dingin sekali. Diam-diam Lukman beringsut pergi, membawa luka dihatinya.

Hari-hari selanjutnya justru menjadi kosong. Viola juga merasa bahwa Nunik tak mau lagi menghiburnya. Temannya itu amat marah ketika dia ceritakan pertengkarannya dengan Lukman.
“Terlalu kau! Kau kecewakan Lukman yang begitu baik padamu! Kau mengharapkan orang lain setia padamu, tapi kau sendiri? Huh, begitu ada gelagat Alvin akan kembali padamu, kau mulai menyingkirkan Lukman!”
“Aku … aku tak bermaksud begitu, Nik. Aku cuma ingin Lukman mengerti, bahwa hanya Alvin yang kurindukan, dan juga yang selalu kuimpikan.”
“Selamanya kau akan bermimpi, Vio! Tak cukupkah pengalaman mengajarimu bahwa cowok semacam Alvin bagai kincir angina dan tak pernah sungguh-sungguh? Jangan keras kepala, Vio!” Dan Viola memang keras kepala. Meskipun akhirnya dia harus mengakui, semua sikap manis Alvin akhir-akhir ini cuma kedok cowok itu saja guna menggaet Maria, adik sepupu Viola yang dikenalnya pada sebuah pesta. Viola mengawasi burung-burung gereja yang terbang ke atas bumbungan rumah sebelah. Dihelanya nafas. Aku seperti seekor keledai, bisiknya. Jatuh untuk kedua kalinya, dengan sebab yang sama dan juga karena ketololanku yang sama ….

Viola mempertajam pendengarannya ketika dia semakin mendekati ruang piano. Dia kenal betul dengan denting-denting yang khas itu. Lukman, hanya Lukman yang bisa bermain piano seperti itu.
“Hai, masuklah.” Lukman berhenti bermain ketika Viola membuka pintu.
“Aku tidak tahu kalau engkau ada di sini. Bukankah giliranmu besok?”
“Ingatanmu kuat juga, Vio. Ya, mestinya aku datang besok. Tapi ada perubahan jadwal. Kau malah yang di minta datang besok,” kata Lukman tenang, seolah-olah sebelum ini mereka pernah tak bicara untuk beberapa waktu.
“Oh, aku tidak tahu. Kalau begitu, biar aku pulang saja,” seru Viola sambil menelan kekecewaannya. Tadinya dia menyangka Lukman datang karena ingin bertemu dengannya. Ternyata …
“Kau mau mendengar laguku? Aku baru saja selesai menulisnya tadi malam.” Alis Viola terangkat. Dia tidak tahu kalau Lukman bisa menulis lagu.
“Masih acak-acakan. Tolong bantu ya.” Viola mengangguk. Dan lagu itu begitu sendu, sehingga Viola hanya dapat berdiri tegak tanpa memberi komentar apa pun. Lagu itu bagus walau pun di sana-sini masih ada nada yang fals. Itu biasa, untuk permulaan.
“Apa pendapatmu, Vio?” Viola tergagap. Dia tak tahu hendak mengatakan apa. Tapi secara keseluruhan lagu itu cukup bagus.
“Bagus.”
“Itu saja?” tatap Lukman dengan sinar seperti biasa, lembut dan penuh kasih. Kemudian ditepuknya pipi gadis itu.
“Kau tidak ingin tahu, untuk siapa lagu itu?” Viola menggeleng.
“Untuk gadisku,” kata Lukman.
“Oh,” Viola berputar, tak ingin melihat Lukman dengan matanya yang mulai basah. Dia patut menerima akibat atas kekerasannya selama ini.
“Vio,” panggil Lukman saat Viola membuka pintu. Vio menoleh. Dia melihat geraham Lukman mengetat.
“Kau tidak ingin tahu siapa gadis itu?” seru Lukman jengkel. Viola tersenyum pahit.
“Untuk apa?”
“Persetan untuk apa! Kenapa kau keras kepala betul, Vio? Kenapa kau kunci seluruh pintu hatimu untukku? Tidakkah kau punya perasaan? Hampir gila aku berpisah darimu dulu. Hampir aku mencekik leherku sendirimelihat kau kembali pada Alvin. Sekarang saat kulihat kau kembali luka oleh bangsat itu, kau tak juga mau mengerti perasaanku!”
“Aku tahu aku salah, Luk. Tapi tidak usah kau bangkitkan lagi kenangan buruk itu. Kalau kau ingin marah, silahkan.” Lukman menyambar tasnya sambil memandang Viola tajam. Sia-sia semua kerja keras ini dilakukannya.
“Oke, selamat tinggal, Vio. Selamat bermimpi seribu tahun lagi!” Lantas, Lukman membanting pintu. Viola mengangkat bahu. Dia duduk di depan piano. Aku memang akan bermimpi terus, Luk, gumamnya sendiri. Tapi sekarang bukan Alvin yang kuimpikan, karena dia adalah masa lalu. Yang kuimpikan adalah masa depan bersamamu, Luk …
Vio terbeliak melihat huruf-huruf kecil dibawah kertas lyang tertinggal itu. Di situ Lukman menulis, lagu itu untuk gadisnya yang tercinta, terkasih dan yang keras kepala: Viola.. Viola segera menerjang pintu, melompati dua anak tangga sekaligus.
“Lukman!” teriaknya sekuat tenaga. Lukman baru saja akan membuka pintu mobilnya waktu mendengar teriakan itu. Viola berlari sambil melambai-lambaikan kertas lagu itu. Lukman tercengang.
“Ada apa?” desis Lukman dingin. Viola terengah-engah mencari nafas.
“Kau tadi bertanya padaku kan?” Lukman mengangguk. Viola tersenyum tipis sambil berjingkat mencium pipi Lukman. Cowok itu terbelalak.
“Ada pertanyaan lain?” Mula-mula Lukman terpana, tapi akhirnya dia tertawa tergelak-gelak sambil merangkul Viola erat-erat.
“Tidak. Tidak ada pertanyaan lagi. semuanya sudah terjawab.” Viola lega. Ya, semuanya sudah terjawab. Masa lalu telah ditepiskannya sekarang dan dia bersiap menjalani masa depan bersama Lukman yang setia.

Jumat, 14 Oktober 2011

Tiga Pertanyaan


Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun yang boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

“Anda siapa? Dan apakah boleh anda menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?” Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. “Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” Jawab Guru Agama “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya”

Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama.

Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawapan saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.

“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Tentu saja saya merasakan sakit”, jawab beliau. Guru Agama bertanya ”Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?”. Pemuda itu mengangguk tanda percaya. Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” “Tak boleh”, jawab pemuda. “Itulah jawapan pertanyaan pertama: kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” Terang Guru Agama.

Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. “Itulah yang dinamakan Takdir” Terang Guru Agama.

Guru Agama bertanya lagi, “Diperbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. “kulit”. Jawab pemuda. “Pipi anda diperbuat dari apa?” “Kulit “ Jawab pemuda. “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Sakit.” Jawab pemuda. “Walaupun Syaitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syaitan.” Terang Guru Agama.

Jumat, 12 Maret 2010

Surat Cinta Seorang Hacker


temen gu ada yang nge-tag tulisan ini di fb gue http://www.facebook.com/rendipangeran lumayan seru nih isi tulisan, ini link sumbernya. Okehlah terseah aja dengan kalian mo baca di TKP langsung or baca disini...


Seandainya hatimu adalah sebuah system,
maka aku akan scan kamu untuk mengetahui port mana yang terbuka Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:\> nc -l -o -v -e ke hatimu,tapi aku hanya berani ping di belakang anonymouseproxy, inikah rasanya jatuh cinta sehingga membuatku seperti pecundang atau aku memang pecundang sejati whatever!

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
ingin rasanya aku manfaatkan vulnerabilitiesmu, pake PHP injection Terus aku ls -la; find / -perm 777 -type d,sehingga aku tau kalo di hatimu ada folder yang bisa ditulisi atau adakah free space buat aku?. apa aku harus pasang backdor"Remote Connect-Back Shell"jadi aku tinggal nunggu koneksi dari kamu saja, biar aku tidak merana seperti ini.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
saat semua request-ku diterima aku akan nogkrong terus di bugtraq untuk mengetahui bug terbarumu maka aku akan patch n pacth terus,aku akan jaga service-mu jangan sampai crash n aku akan menjadi firewallmu aku akan pasangportsentry, dan menyeting error pagemu " The page cannot be found Coz Has Been Owned by Someone get out!" akujanji gak bakalan ada macelinious program atau service yang hidden, karena aku sangat sayang dan mencintaimu.

Seandainya hatimu adalah sebuah system,
jangan ada kata "You dont have permission to access it" untuk aku, kalau ga mau di ping flood Atau DDos Attack jangan ah....! kamu harus menjadi sang bidadari penyelamatku.

Seandainya hatimu adalah sebuah system, ...?

Tapi sayang hatimu bukanlah sebuah system,
kamu adalah sang bidadari impianku, yang telah mengacaukan systemku!
Suatu saat nanti aku akan datang n mengatakan kalau di hatiku sudah terinfeksi virus yang Menghanyutkan, Ga ada anti virus yang dapat menangkalnya selain ...kamu.

Senin, 08 Februari 2010

Aku Harus Pergi

Rasa sakit itu belum juga hilang, pikirannya masih saja menerawang, matanya menatap kosong langit-langit atap kamarnya, ia mencoba untuk menyingkirkan bayang kelam itu, tapi usahanya sia-sia belaka, semakin kuat keinginannya untuk melupakan bayangan itu semakin kuat juga bayangan itu memasuki alam bawah sadarnya. Ia mencoba lagi menyingkirkan bayangan itu dengan memejamkan matanya, rasa kantuk dipanggilnya tapi percuma saja walaupun ini sudah hari ketiga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, bayangan itu selalu saja menghantuinya. Semenjak kejadian tiga hari yang lalu ridho hanya mengurung diri dalam kamarnya,.Diambilnya ponsel dari bawah bantalnya kemudian ia mulai membuka kembali pesan singkat dari lia, entah knapa ia sulit sekali melupakan wanita itu walaupun ia tau bahwa wanita itu telah pergi meninggalkan dirinya. Ya Allah, knapa semua ini harus terjadi padaku? Gumamnya dalam hati, kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya menuju meja belajar tepat ia meletakkan laptop kesayangannya. Di bukanya foto-foto dan video kenangannya dengan lia, lama ia terpaku di depan layar monitor laptopnya, kini pikirannya melayang jauh mengingat memori indah itu, hingga akhirnya ia tertidur di meja belajarnya, kemudian sebuah sosok wanita muncul di sebelahnya lalu mencium kening ridho.

Rasa dingin menyelimuti raga ridho yang sedang tertidur, Angin yang berhembus kecang menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamarnya, seolah-olah ingin membangunkan ridho yang tertidur pulas. ia untuk membuka kedua matanya tetapi matanya sulit sekali untuk dibuka seolah-olah ada beban berat yang menempel dipelupuk matanya. “ridho…bangun sudah siang, kamu kuliahkan hari ini” sayup-sayup terdengan suara yang sudah sangat kenal di telinganya. Akhirnya ia terbangun bangkit dari tempat tidurnya, ia duduk sejenak di bibir tempat tidurnya, dan merasakan ada suatu kejanggalan dalam dirinya, namun segera ditepisnya perasaan itu karena suara itu kini terdengar lagi, “ia mah, hari ini kuliah ” jawab ridho lirih sambil berjalan menuju pintu kamarnya.

Sesampainya dikampus ridho tidak melihat satupun teman-teman sekelasnya yang biasanya duduk di tangga menunggu dosen datang, diliriknya jam tangannya, Ya Allah, baru pukul 08.30, aku berangkat terlalu pagi keluhnya dalam hati, akhinya ia putuskan untuk menunggu waktu kuliahnya di kantin kampus yang berada tepat dibelakang kampusnya, ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju kesana. Sesampainya di kantin matanya terpaku melihat seorang wanita yang melambaikan tangannya kepada dirinya. Didekatinya wanita itu kemudian duduk tepat dihadapannya “Mas es caffucinno satu” katanya kepada pelayan kantin, “Kamu datang kepagian ya? Sama aku juga salah liat jadwal, aku kira ini hari senin” cerita wanita itu membuka pembicaraan, “hari ini kamu kuliah jam berapa? Aku ada yang ingin di bicarakan denganmu” lama ridho membisu, dia merasa aneh hari ini, ia merasa seolah-olah pembicaraan ini telah dialaminya sebelumnya tapi dimana, ia berusaha mengingat-ingat lagi, tetapi pelayan kantin yang datang mengantarkan pesanan minuman datang menyela pikirannya, “jam berapa kamu masuk kuliah” tanya wanita itu lagi “jam setengah sepuluh aku masuk kuliah” jawabnya sambil mengingat-ingat dimana kejadian ini pernah terjadi, “ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Dan aku harap kamu bisa menerima semua keputusan ku ini. Aku pikir lebih baik hubungan kita cukup sampai disini saja, aku harus pergi, semoga kamu bisa mendapatkan pengganti aku yang jauh lebih baik dari aku” wanita itu berkata datar, ridho hanya bisa diam, menatap wanita itu dengan penuh tanya, ia ingin mengeluarkan suara tetapi di tenggorokannya terasa ada sesuatu yang mengganjal sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa “Kamu jangan pernah hubungin aku lagi dan jangan datang lagi kerumahku” ucap wanita itu lagi seraya pergi meninggalkan ridho yang masih diam, “tapi kenapa? Apa salahku?” akhinya ridho dapat mengeluarkan suaranya “karena aku harus pergi jauh” jawab wanita itu tanpa menoleh kearah ridho sedikitpun, “Lia tunggu….!!!! Liaaaaaa…….!!!!!”
Dering ponsel membangunkan tidurnya, “ah, mimpi itu lagi” ridho pun sekarang ingat bahwa mimpi tadi adalah kejadian tiga hari yang lalu, mimpi yang selalu datang setiap ridho terlelap tidur, ponsel ridho berdering sekali lagi, diambilnya ponsel yang tergeletak tepat disebelah laptop, “siapa ini nomor ini aku tidak kenal?”.
“halo ini ridho?” tanya orang wanita yang dari suaranya berusia kira-kira setengah baya, belum sempat ridho menjawab wanita telah berkata lagi “ini mama-nya Lia nak, kamu dimana? Ibu minta kamu datang kesini sekarang nak”. Ridho terdiam, ia masih tidak mengerti ada apa ini sebenarnya, kenapa tadi terdengar suara isak tangis? Bukankah lia sudah berkata jangan pernah menemuinya dan datang kerumahnya lagi, tapi kenapa sekarang tiba-tiba mamanya menyuruh ku datang kerumahnya? Berjuta pertanya memenuhi kepala ridho. Buru-buru ridho mencuci muka dan mengambil jaketnya lalu pergi menuju rumah lia.
Ridho terpaku melihat berdera kuning terpasang tepat di pagar rumah, “apa maksud dari semua ini? Benarkah ini terjadi atau aku hanya sedang bermimpi?” diberanikan langkahnya untuk masuk kedalam rumah lia, didalam rumah ridho menemui lia yang sedang terbujur kaku dibalut dengan kain putih, seketika itu juga lututnya menjadi lemas, ia berusaha mencari sandaran agar tidak terjatuh, “lia meninggal? Kenapa? Tiga hari yang lalu dia masih baik-baik saja? Tapi mengapa sekarang aku menemukannya terbujur kaku disini?” seorang wanita setengah baya menghampiriku, sambil menangis terisak-isak berkata lirih kepadaku “Lia meninggal nak…, sebelum meninggal lia menitipkan ini untuk kamu” sebuah amplop warna biru, warna kesukaan lia.
“Terima kasih atas semua kenangan terindah Yang pernah kudapat darimu meski hanya sesaat, Maaf aku tidak memberitahumu tentang penyakit yang telah bersarang diotakku selama tiga tahun belakang ini. Aku meninggalkanmu bukan karena aku tidak mencintamu, tapi karena aku takut kehilangan kamu…” 
kututup surat itu karena ku tak sanggup lagi membaca kelanjutan surat itu, ku tatap wajah lia untuk yang terakhir kalinya yang tersenyum kepada ku.

Rabu, 03 Februari 2010

Korban Longdistance

“Sebaiknya sekarang kita berteman dahulu, kita pikirkan baik-baik hubungan kita ini, aku harap kamu bisa menyakinkan hatiku selama kita berteman”
Aku menatap kosong kearah daun-daun yang bergeliat kecil oleh tetesan air hujan, pikiranku masih kacau, pesan singkat tadi belum juga bisa aku lupakan, walaupun sudah berusaha kuat untuk melupakannya tapi sia-sia saja, kata-kata itu kini melayang berputar di pikiranku. Hujan yang turun semakin deras membuat lamunanku kembali pada masa-masa indah. Banyak pertanyaan dalam diriku yang belum ada jawabannya, “Kenapa ini terjadi padaku?, Salah apa aku?”.
Dering ponsel membuyarkan lamunan ku, dengan sedikit bermalas-malasan aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur, sebuah pesan singkat dari putri “Maaf, bukan maksud aku berbuat seperti itu, tapi aku ragu dengan hubungan kita ini, aku disni dan kamu disana. Sekali lagi maaf”. Setelah membaca pesan singkat itu, aku melemparkan ponsel keatas kasur. Ingin aku membalas pesan singkat itu namun bingung harus bicara apa. Akhirnya aku memutuskan untuk bebaring dikasur, mencoba memejamkan mata untuk melupakan kejadian itu, pikiranku kini memutar kembali kejadian tadi malam, namun rasa kantuk mengalahkan bayangan itu.
“Ren..Ren…Renoooo……!!!!!! bangunnnn….!!!!” Teriakan Uje membangunkanku, “Ngampus gag lu?, molor mulu udah kaya kebo aja lu, cepet mandi sono. Gue tunggu lu disini GPL, lima menit enggak …” Aku bangun dan pergi meninggalkan uje tanpa memperdulikannya yang terus nyerocos, memang itu sudah menjadi sifat Uje, bawel, reseh, yang mememang terkenal biang rusuh di kampus. “Ren…., gue numpang OL bentar ya, update status aja” teriak Uje dari dalam kamar, mungkin uje melihat laptop ku masih menyala, “Iya…!!! Tapi jangan aneh-aneh lu” jawabku, “logout dulu yang punya gue, kalo ada email yang masuk jangan lu buka…!!!”. Enggak lebih dari lima belas menit aku sudah siap untuk berangkat kekampus.
Sepanjang jalan uje nyerocos terus, ada-ada yang di komentarinnya tapi aku hanya diam saja, “Lu kenapa Ren?” tanya uje, yang mungkin sedikit merasa aneh karena sepanjang jalan aku hanya diam saja, sibuk sendiri dengan pikiranku, “ribut lagi sama putri? Gag biasanya lu diem kaya gini, biasanya lu komen terus klo liat yang aneh-aneh, nenek-nenek aja lu komentarin, ini kok lu diem aja dari tadi”, kata-kata uje seketika membuyarkan lamunanku “Hallahh, sotoy lu, gue lagi gak mood aja komen” kataku mencoba untuk ngeles “ah…, yang bener? Yakin lu enggak apa-apa?” pancing uje, “iaa, enggak apa-apa, bawel banget lu, udah gak usah berisik lagi. Agak ligat, ini udah jam 10 telat 5 menit bisa di usir kita” jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ia, tu dosen galak banget, Cuma telat 5 menit 5 detik aja diusir…” uje pun kembali nyerocos kembali membicara dosen, aku hanya meng-iya-kan saja, dengan sedikit senyum karena uje sudah tidak membicarakan lagi tentang putri. Selama jam pelajaran aku hanya diam aja menatap kedepan tanpa memperdulikan dosen yang sedang menjelaskan tentang TCP/IP, ragaku ada di dalam kelas ,tapi pikiran ku melayang entah kemana. “…Tugas dikirim via email, paling lambat email anda saya terima besok jam 7 malam”, hanya kata-kata itu yang aku dengar selama dosen berada diruangan. “Gila tu dosen, gag mikir apa? Ngasih tugas kok deadlinenya cepet banget, emang Cuma dia aja apa yang ngasih tugas” keluh uje padaku “udah namanya juga dosen, mau-mau dia lah ngasih deadline tugas” jawabku asal saja, “Iya, tapi masa Cuma sehari, padahalkan besok enggak ada mata kuliah itu…” uje masih terus mengeluh, cepat-cepat aku potong ocehannya itu “cafĂ© yuk, laper nih gue”.
Dicafe uje menatapku dengan penuh curiga, “kenapa lu? Ngeliatin gue sampe begitu banget” tanyaku risih “tadi lu bilang laper, tapi kok lu Cuma mesen minum aja” tatap uje curiga, “enggak apa-apa, uda gag selera makan lagi gue, liat lu mesennya banyak banget, lu laper, doyan apa rakus lu” jawabku mencoba ngalihkan pembicaraan lagi. Sebenarnya aku sudah tidak heran melihat uje memesan makanan yang melebihi porsi makan orang biasa, “hehehehe…, tadi gue belum sempet sarapan dirumah” uje menjawab sambil tersenyum, lalu mulai menyantap makanan yang ada di depannya, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, lalu mencicipi coffe late yang aku pesan tadi kemudian membuka tas ranselku dan mengeluarkan laptop. Dikampusku memang disediakan fasilitas Hotspot khusus untuk mahasiswa yang menempuh studi disana, maksudnya sih untuk mecari artikel atau literatur yang behubungan dengan mata kuliah, tapi pada kenyataan digunakan mahasiswa untuk chat, download, dan membuka situs jejaring sosial, seperti yang akan saya lakukan ini, menyalakan laptop kemudian memasukkan kode gateway kampus lalu mulai mengetikkan URL http://www.facebook.com. Dihomepage terlihat 2 pesan masuk dan 5 pemberitahuan terbaru, aku mulai mengecek isi pesan masuk itu, yang ternyata hanya sebuah pesan dari temanku yang menanyakan tugas dan pesan dari online shop yang menawarkan produknya kemudian aku mulai mengkilk gambar merah yang ada di pojok kanan layar laptopku, ternyata hanya berisi pemberitahuan pemberian gift dari game online yang ada di situs ini, sedikit kecewa karena belum ada hal yang menarik, namun tidak sengaja mataku melihat status dita temannya putri yang mengatakan bahwa dia dan putri sedang ada di senayan, lalu dengan iseng akupun menulis sebuah komentar di status dita “Jagain pacar gue ya dita, jangan sampe kenapa-kenapa”. Tak lama setelah aku mengirim komentar itu muncul sebuah pemberitahuan baru bahwa ada seseorang yang ikut mengomentari status dita aku tidak kenal dengan nick orang itu, tapi karena penasaran akupun melihat apa isi komentar orang itu. Bagai tersabar petir aku terdiam lemas membaca isi komentar dari orang itu “Loe lagi sama putrikan? Kok orang itu bilang pacarnya”. Lama aku mencoba mencerna komentar dari orang itu, tak lama kemudian terdengar bunyi plop dari laptopku, ternyata sebuah pesan chat dari putri.
Putri >> lagi apa kamu?
Reno >> lagi minum, dicafe kampus
Putri >> owgh…. aku lagi dengan dita di senayan nih
Reno >> iya aku tau, tadi aku baca statusnya dita, Oia itu ada yang nanyain kamu di statusnya dita
Putri >> siapa?
Reno >> kamu liat aja sendiri
Putri >> ya udah biarin aja kalo gtu
Reno >> siapa itu put?
Putri >> bukan siapa-siapa Cuma temen aja
Reno >> temen apa temen???
Putri >> cuma temen kok… Ya udah aku off dulu ya, bye…
Aku masih hanya bisa terpaku diam saja, perasaan curiga kini melanda diri ku, pasti ada hubungannya semua ini dengan isi pesan singkat yang semalam putri kirimkan padaku. Aku mulai ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, aku mulai membuka homepage putri tapi aku tidak melihat keanehan disana karena sudah seminggu ini putri memang sudah tidak pernah lagi mengupdate statusnya dan mengurusi homepage di facebook, karena memang aku tahu password facebook putri, aku masuk melalui akun putri 56 pesan masuk, 17 permintaan teman, 14 peberitahuan baru, 20 permintaan lain dan sebuah colekan dari miftis. Apa colekan dari Miftis… aku sepertinya pernah dengar nick miftis tapi dimana aku lupa, kemudian aku kembali melihat status dita dan ternyata benar miftis adalah nama orang yang berkomentar distatus dita setelah komentar aku, aku lebih kaget lagi melihat sebuah wall dari miftis di facebook dita “Temen lo pendusta hati”, apa pendusta hati? Apa maksud dari semua ini, kenapa bilang putri pendusta hati?, aku menscroll lagi wall dita dan aku melihat sebuah wall dari mitfis lagi “Iaudah x dit kalo lo jga gag suka ma sifat gw ma dia. Iaudah biar gw aja yang ngala. Thnx bilangnya ma temen lo”, apa maksud dari semua ini, walaupun sebenarnya aku mengerti tapi aku berusaha menolak kenyataan ini, kembali aku melihat wall dari mitfis “lo juga jangan ngajarin doi buat selingkuh donk! Parah lo.. dagger gw luw! Heuh tikung menikung!”. Kini semuanya menjadi jelas, kecewa, sedih, bingung, aku hanya bisa diam saja menatap layar laptop ku, sampai uje menyadarkan ku dengan ocehannya yang khas, “woyyyyyyy….!!!! Bengong aja lu, ni minuman gag lu minum? Baud gue aja klo lu gak mau minum”. Aku hanya bisa menggangguk lemas, aku masih enggak percaya dengan semua kejadian ini. “bener nih lu gag mau minum, ya udah sini gue yang abisin trus pulang, tadi gue dikasih tau alim kalo dosen mata kuliah yang kedua enggak masuk cuma ngasih tugas aja”. Aku hanya tersenyum sekedarnya saja, hanya gara-gara masalah ini aku lupa dengan keadaan yang ada disekitarku, bahkan aku sempat lupa sejenak dengan keberadaan uje dan sama sekali tidak tahu kedatangan alim.
Selama perjalanan pulang bahkan sampai di rumah aku hanya bisa terdiam aja, aku ingin mendapatkan penjelasan dari putri, apa maksud dari semua ini, tapi aku ragu, aku bingung harus berbuat apa? Walaupun aku kecewa tapi sebenernya aku masih sayang dengan dia. Sampai saat ini aku masih bingung harus bagaimana, biarlah waktu yang akan menghapus semua cerita ini, cinta tak harus memiliki hanya satu harapanku untuknya, cukup hanya aku yang menjadi korban, jangan lagi ada orang lain yang bernasib sama seperti aku, “Cinta itu seperti mawar yang merekah sempurna di taman, meminta untuk dipetik tetapi selalu siap melukai siapa saja”
Longdistance relationship sama saja pacaran dengan ponsel, komputer atau laptop, yang selalu saja diakhiri dengan perselingkuhan.

Rabu, 27 Januari 2010

MENUNGGU PAGI

Cemas mencekap ketika air jatuh sebagai gerimis. Ketakutan dialami dia yang sendiri di pinggir kota. Ketakutan adalah ruang hampa dalam hatinya, sedangkan malam melukis kelamnya malam dihatinya.

Dia bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang teman yang masih tersisa, ia masih memahat dendam kosong pada batu. Ia memaki malam yang tak kunjung usai. Ia membenci malam sejak ia kehilangan segalanya. Ia sendirian, bila ayah dan bunda tak ada lalu harus berharap pada siapa? Ia hanya bisa berharap ada iba yang jatuh di telapak tangannya. Bila biasa ia berkata, bukan ia tak cinta bunda yang telah melahirkannya kedunia. Tapi mengapa sejak nafas ia minta pada Tuhan hanya memberi luka? Telapak tangan kanannya ia buka lebar-lebar, matanya melotot besar karena lapar. Hatinya selalu saja berharap cemas, adakah iba yang bisa ia makan hari ini?
Pengemis itu ingin berbunyi dari malam, ia benci pada malam yang merebut rejekinya. Tapi siapa yang mau peduli? Mungkin ia terlalu naif untuk bekerja, atau kitalah yang terlalu naif padanya? Tangan-tangan kotor itu selalu selalu saja kita anggap merusak pemandangan kota ini. Padahal mereka juga manusia, sama seperti kita. Apa alasannya kita selalu memaki mereka? Sengaja mereka ku jadikan teman, aku tersadar mereka mengemis bukan karena cinta tapi waktu yang telah memperbudak mereka.

Awal yang tanpa rekayasa, pada setiap kesempatan kujatuhkan iba pada tangan pengemis tua yang tubuhnya penuh luka itu. Pada satu kesempatan aku melintasinya dengan terburu-buru, “Emm… Mau pergi kemana Mas?” ia menyapa ku. Aku berhenti sejenak dan kembali padanya, lalu menjatuhkan iba pada tangannya, kupikir ia hanya ingin mengingatkanku hari ini. Lalu pada hari-hari biasa aku kembali melintasi pengemis tua itu, tapi tanganku penuh dengan beban yang harus kubawa. Seorang anak kecil menarik celanaku menawarkan bantuan, aku menolak tapi anak itu menunjuk pengemis tua di pinggir jalan, anak itu berkata “Bapak bilang saya harus membantu membawa barang-barang mas”. Aku tertegun, kutoleh pengemis tua itu dan tersenyum sambil mengangguk meniyakan.
Pada hari libur sengaja kucari pengemis tua itu, ku bawakan beberapa bungkusan nasi. Ia sangat gembira menerima kedatanganku, atau mungkin karena nasi bungkus ditanganku. Bapak tua dan anak kecil itu buru-buru melahap nasi bungkus itu, sambil mengunyah mereka sibuk mengucapkan terima kasih. Aku tertegun melihat keadaan di depanku, sebahagia itukah mereka menghargai setiap butir nasi? “Bapak terakhir makan waktu sore dua hari yang lalu” ia mulai bercerita, “Anak kecil ini bukan anak anak bapak tapi dia biasanya mengurus bapak, karena tangan dan kaki bapak lumpuh. Bahka terkadang, anak ini yang berbagi nasi dengan bapak” Pikirku, anak sekecil itu sudah ingin bertanggung jawab kepada orang lain, lalu kuberi bebrapa lembar uang ribuan dan ia menerimnya dengan girang dan anak itu langsung lari memasuki pasar di belokan jalan, mungkin ada mimpi yang ingin ia beli dipasar.

Begitulah waktu menetaskan luka di hati mereka yang hidup mengharap iba dari kita, pengemis tua itu bilang jika cuaca cerah banyak orang yang lalu-lalang maka cukup ada iba yang bisa mereka makan, tapi bila ada hujan maka mereka hanya bisa meminum air yang jatuh ditelapak tangan, sia-sia. Aku bertanya pada pengemis tua itu “Apa yang bapak lakukan jika Tuhan menawarkan satu permohonan?” Pengemis itu menjawab “Semoga Tuhan menghapus malam, setidaknya ada yang peduli pada nasib kami, karena bila malam datang maka tak seorangpun bisa memperdulikan kami yang mengiba”

Aku pulang kerumah tanpa bisa berkata apa-apa, sebelum tidur kutulis kalimat di selembar kertas. Mengapa Tuhan tak menghapus malam?, lalu kulipat kertas itu dan kutaruh dibawah bantal, lalu kujemput mimpi yang terpaksa.

Aku kembali berjalan didepan mereka, tapi mengapa pengemis tua itu tak ada, dimana pengemis tua dan seorang anak kecil itu? Kucari wajah mereka diantara ratusan wajah. Tapi wajah-wajah yang ada didepanku adalah wajah-wajah lain, mereka adalah para tetangga kaya yang tinggal didekat rumahku? Mereka menangis sambil berkata “ Mengapa Tuhan tak menghapus malam? Mengapa Tuhan tak menghapus malam? Mengapa Tuhan tak menghapus malam…?” mereka terus mengeluh dan mengulang-ulang pertanyaan yang sama, Arrrrggggggghhhhhh…………!!!! Aku pusing !!!

Aku terbangun dari mimpi setelah cahaya mentari menerobos mataku. “Wah untung hanya mimpi” Aku bangkit dari tempat tidur dan buru-buru mandi, siang hari, aku pergi membeli beberapa nasi bungkus dan beberapa kilo buah-buahan lalu naik angkot menuju ke arah pasar untuk mengunjungi pengemis tua dan anak kecil itu. Aku tertegun sendiri diantara keramaian kota yang besar ini, mataku liar mencari dua orang pengemis itu, dimana? Aku menyusuri jalan kota memasuki pasar, melewati jembatan penyeberangan,aku mencari dan terus mencari. Tapi aku hanya mendapat lelah, hari ini terasa sepi. Lama aku berdiri di jembatan penyeberangan sambil kutatap langit diam-diam aku bersyukur walau aku tak lebih tinggi dari hidup orang lain setidaknya aku tahu bahwa masih ada yang lebih butuh dari aku. Tapi dimana mereka saat ini? Aku melanjutkan lagi pencarianku, tapi yang kudapat hanyalah sia-sia. Kuletakkan bungkusan nasi dan buah itu ditempat biasa pengemis tua itu duduk mengharap iba. Akh, apa yang terjadi pada mereka?

Mungkin kita akan bertukar posisi dengan mereka? Saat kita butakan mata tanpa melihat kebawah pada mata mereka yang mengiba. Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, mungkin besok atau lusasalah satu dari kita akan duduk dipinggiran kota menggantikan mereka bermandi gerimis dan tak seorang tahu saat kita menangis dan mengiba. Dan mereka yang pernah kita umpat dengan kata-kata kasar akan menggantikan posisi kita, duduk dirumah yang besar dan ber-AC, tidur di kasur yang empuk, menonton televisi yang besar. Siapa diantara kita yang akan lebih awal mengeluh, Mengapa Tuhan tak menghapus malam? Entah, satu pesan yang ingin kutitip, sampaikan salamku pada pengemis tua dan seorang anak kecil itu, sekali lagi kuminta pada kalian tolong jangan kalian lupa katakan salamku pada mereka, karena pengalaman mereka aku dapat memerani tokoh karakter naskah teater orang-orang ditikungan jalan. Ingatlah tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, tak ada satu pun dari kita yang bisa menolak, tidak juga aku, kau, ataupun para pengemis itu. Lalu siapa yang mencintai takdir?

 
Design by Automotive | Bloggerized by Free Blogger Templates | Hot Deal